Lorem Ipsum is simply dummy text of the printing and typesetting industry. Lorem Ipsum has been the industry's standard dummy text ever since the 1500s, when an unknown printer took a galley of type and scrambled it to make a type specimen book. It has survived not only five centuries, but also the leap into electronic typesetting, remaining essentially unchanged. It was popularised in the 1960s with the release of Letraset sheets containing Lorem Ipsum passages, and more recently with desktop publishing software like Aldus PageMaker including versions of Lorem Ipsum.

Selasa, 22 September 2015

AMAL IALAH SAHABAT TERBAIK


"Siapa Sahabatmu?"



Dahulu pertanyaan seperti itu selalu membuat senyum saya terkulum, lalu ragu-ragu menyebut nama mereka yang 'dekat' dengan saya. Dulu saya juga tidak tahu sahabat itu bagaimana. Katanya yang selalu menemani hari kita. Kalau yang seperti itu, ada banyak! Tidak sepenuhnya ada di 'samping' saya sih, sebab saya lebih suka 'sendiri'

Saya memang lebih suka melakukan apa-apa sendiri, terasa lebih bebas dan tidak terikat. Semasa sekolah, saya sering melihat 2 orang teman saya yang katanya bersahabat, ke mana-mana berdua. Ke kantin, ke kelas lain, ke perpustakaan, hingga ke kamar mandi juga berdua. Saya tidak suka diikuti dan mengikuti terus seperti itu.

Yang saya lihat dari teman-teman saya yang bersahabat, mereka akhirnya jadi sering bohong untuk mempertahankan hubungan mereka. Agar hati sahabatnya senang, harus sering dipuji. Walaupun yang dilakukan salah, pujian tetap mengalir.

Padahal kenyataannya, sahabatnya sering tidak fokus dengan pelajaran sekolah. PR juga jarang dikerjakan karena keasyikan kencan. Nilai kian merosot tajam. Tetapi bukannya mengingatkan untuk lekas 'bubaran', sahabatnya malah mendukung untuk terus bersama si B, sang biang keladi.

Sahabat yang sering diagung-agungkan, nyatanya tidak selalu 'baik' hingga akhir. Banyak juga yang akhirnya 'menusuk dari belakang'. Hubungan persahabatan runyam karena ego masing-masing. Juga keinginan untuk merampas yang menjadi milik sahabat. Hubungan yang terlalu dekat memaksa untuk 'berbagi', termasuk merasakan 'rasa' yang sama pada orang yang sama. Mungkin, persahabatan demikian memang belum pantas disebut sebagai 'sahabat', baru sekedar teman dekat.

Seiring bertambahnya usia, saya menyadari bahwa sahabat sejati saya ialah amal perbuatan saya. Sahabat yang selalu ada di samping saya, menemani setiap langkah saya serta benar-benar memberikan poin mana yang benar dan salah, ya ... amal. Sahabat saya ini jujur, kalau saya berbuat salah, catatan di sebelah kiri benar-benar bertambah. Ia tidak akan berbohong dan menjadi pengingat saya selalu.

Sahabat saya memang tidak bisa dipeluk saat saya sedih dan butuh 'sandaran', tetapi ia lekas membuat saya bahagia dengan sekedar mengingatnya. Berbagi, itulah yang saya lakukan ketika kemuraman hati melanda. Berbagi apa saja, entah sedikit rezeki saya, kisah-celoteh saya di jejaring sosial, maupun doa pada sang-pembuat-galau. Bertambahnya amal baik secara otomatis membuat lengkungan indah di wajah saya, dalam keadaan seburuk apapun hati saya ini.

Amal ialah penyemangat saya. Karenanya saya bisa memilih mana yang harus dan tidak boleh saya lakukan. Juga menjadi acuan saya dalam mengisi hari-hari saya. Dalam keadaan apapun, amal tidak akan meninggalkan saya sedetik pun. Saya jadi tidak merasa sendiri sebab Allah dan amal selalu menemani.

Sayangnya, saya baru sadar akan kehadiran sahabat saya ini beberapa tahun terakhir. Ketika itu, saya merasa putus asa karena telah salah langkah. Saya ingin berbagi cerita pada seseorang, tetapi takut mereka malah mencerca saya. Hanya bisa menangis dan menangis menghadapNYA. Kemudian saya menuliskan nama saya, dan baru tersadar bahwa ada seorang sahabat di sisi saya, sahabat nyata walau bentuk nyatanya bukan manusia. Ia ada di nama terakhir saya

0 komentar:

Posting Komentar